Tampilkan postingan dengan label bromo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bromo. Tampilkan semua postingan
Erupsi Bromo Pancing Wisatawan Domestik
Lumajang - Meningkatnya status Gunung Bromo yang terus-menerus erupsi, ternyata menambah tingkat kunjungan wisatawan domestik.
"Bromo yang meletus ternyata menjadi daya tarik wisatawan dometik," kata Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Probolinggo, Tutug Edi Utomo saat dihubungi, Sabtu (27/11/2010).
Dia menambahkan, sejak status Bromo menjadi Awas, kunjungan turis hingga Sabtu terpantau sebanyak 15 orang. Sedangkan wisatawan domestik mengalami peningkatan untuk melihat erupsi Bromo. "Meski kunjungan turis sepi, tapi untuk kunjungan wisawatan lokal malah tingggi," tutur Tutug.
Untuk kunjungan wisatawan domestik, baik dari Probolinggo, Surabaya, Malang dan Pasuruan kebanyakan menggunakan mobil pribadi atau roda dua. Kedatangan mereka hanya ingin melihat erupsi Gunung Bromo dari Dusun Cemoro Lawang Desa Ngadisari Kecamatan Sukapura.
"Wisatawan lokal itu, kebanyakan tidak menginap. Mereka datang lalu turun lagi," ungkap Tutug yang sebelum menjabat sebagai kepala Infokom Probolinggo.
Sementara untuk angkutan umum MPU, Jurusan Terminal Probolinggo-Ngadisari masih berjalan normal. Hal itu dikarenakan aktivitas warga Suku Tengger masih normal dan tidak peduli aktivitas Bromo.
sumber
Personel Keamanan di Bromo Ditambah
Sabtu, 27 November 2010, 20:27 WIB
PROBOLINGGO – Tim Tanggap Darurat Bromo menambah jumlah personel keamanan. Penambahan itu dilakukan karena ada indikasi erupsi gunung Bromo yang sudah meletus dua kali sejak Jumat dan Sabtu (27/11) itu masih terus meningkat.
‘’Makanya, perlu antisipasi dini. Untuk itu kita menambah jumlah personel. Personel keamanan yang perlu diperkuat itu dari Polisi Pariwisata dan TNI/Polri,’’ kata Wakil Ketua II Tim Tanggap Darurat Bromo, AKBP Zulfikar yang damini Ketua I, Letkol Hery S, saat jumpa pers dengan wartawan di Posko Tim Penanggulangan Bencana Bromo, Sabtu (27/11).
Dia menjelaskan bahwa penambahan personel keamanan dari TNI/Polri itu sebanyak 55 personel. Mereka terdiri dari TNI sebanyak 30 personel sehingga totalnya menjadi 130 anggota dengan yang sudah ada. Sedangkan dari Polri yang sebelumnya sebanyak 100 orang ditambah 25 personel, sehingga menjadi 125 orang.
Selain itu, dia juga menjelaskan bahwa personel keamanan khusus, juga perlu diadakan. Keamanan khusus yang dimaksud berkaitan dengan pengamanan wisatawan. ‘’APalagi, tadi sudah ada dua turis yang nyelonong ke kawaan kaldera. Itu kan berbahaya. Untuk itu kita akan menambah personel khusus dari Polisi Pariwisata,’’ jelasnya.
Sayangnya, dia tidak menjelaskan berapa jumlah personel dari Polisi Pariwisata yang akan didatangan itu. Dia hanya mengatakan bahwa dengan adanya polisi Pariwisata itu diharapkan bisa mempermudah proses evakuasi terhadap para wisatawan asing yang justru kini banyak berkunjung ke Bromo.
Menurut dia, Polisi Pariwisata tidak akan terhambat dalam berkomunikasi dengan para turis itu. Sehingga, jika terjadi hal yang tak diinginkan bisa cepat proses evakuasinya. Karena itu, perlu Polisi Pariwisata selama erupsi Bromo ini masih terus mengalami peningkatan.
sumber
Sultan: DIY tak Beda dengan Provinsi Lain
YOGYAKARTA--Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, memberi tanggapan atas pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sultan berniat mempertimbangkan kembali jabatannya sebagai kepala daerah jika dianggap menghambat pemerintak pusat menghambat proses penataan DIY.
Presiden sehari sebelumnya mengungkapkan, bahwa sistem monarki tidak sesuai dengan sistem demokrasi. Hal itu diutarakan SBY saat rapat kabinet terbatas di Jakarta, Jumat (26/11).
"Saya akan mempertimbangkan kembali jabatan gubernur DIY itu merupakan pernyataan politik saya. Silakan bagaimana mau menafsirkannya," kata Sultan yang juga Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sabtu (27/11).
Sultan mengaku tidak mengetahui sistem monarki yang disampaikan dan dimaksud pemerintah pusat, karena Pemerintah Provinsi (Pemprov) DIY itu sama dengan provinsi lain di Indonesia, seperti dalam organisasi, manajemen, perencanaan, dan pertanggungjawaban pemerintahan. "Hal itu sesuai dengan konstitusi baik UUD 1945 maupun peraturan pelaksanaannya. Semuanya sama dengan provinsi lain, tidak ada yang berbeda dengan yang lain," kilahnya.
Ia menjelaskan hal itu perlu disampaikan agar rakyat Indonesia, khususnya DIY, tidak memiliki asumsi bahwa pemerintahan di DIY adalah sistem monarki. Padahal, tuturnya, dalam tata kelola pemerintahan tak beda dengan provinsi lain.
"Saya juga tidak mengerti, mengapa disebut monarki? Apa karena Sultan yang menjadi gubernur?" ujarnya.
Menurut dia, persoalan pemilihan atau penetapan kepala daerah di DIY itu merupakan ranah kepentingan rakyat. Proses pemilihan atau penetapan kepala daerah di DIY itu tergantung rakyat karena yang menentukan mereka.
"Jika bicara demokratisasi itu pengertiannya pemilihan, bagaimana dengan jabatan wali kota di wilayah Jakarta? Jabatan itu tanpa pemilihan tetapi tidak ada yang mempermasalahkan. Tidak ada yang menyatakan tidak demokratis," paparnya.
Oleh karena itu, Sultan berharap ada dialog publik yang didasari ketulusan dan kejujuran sehingga masyarakat dapat menjadi subjek dalam demokrasi. "Itu harapan saya sehingga demokrasi dilihat tidak sekadar pada aspek prosedural mengenai pemilihan atau penetapan," ujarnya.
sumber
Sultan tidak Mau Berikan Jaminan Hidup Pengungsi Merapi
Sabtu, 27 November 2010 18:11 WIB
YOGYAKARTA--MICOM: Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X lebih memilih untuk memberikan kegiatan ekonomi yang produktif bagi para korban letusan Merapi daripada memberikan uang jatah hidup yang hanya Rp5.000.
Menurut Sultan, dana untuk menggerakkan perekonomian di daerah tersebut memang sudah tersedia. Para korban nantinya akan dibimbing dalam proyek padat karya yang dapat menghasilkan uang, seperti pembuatan rumah hunian sementara hingga kegiatan di lingkungannya mendatang.
Dengan langkah itu, pengungsi tidak semata-mata mendapatkan uang, tetapi melakukan sesuatu untuk berusaha. Cara tersebut dianggap lebih menghargai dan bisa memberikan semangat bangkit bagi para korban bencana.
Sebelumnya, warga Yogyakarta korban letusan Merapi ini meminta jatah hidup sebesar Rp5.000 per orang setiap hari selama 10 hari.
sumber
Plastik Penutup Stupa Borobudur Dibuka
Sabtu, 27 November 2010 | 16:02 WIB
MAGELANG, Plastik penutup stupa Candi Borobudur untuk melindungi dari guyuran abu vulkanik dampak semburan awan panas Gunung Merapi, Sabtu (27/11/2010), mulai dibuka.
"Aktivitas Gunung Merapi mulai reda dan tidak ada lagi hujan abu maka plastik penutup stupa kami buka," kata Kepala Balai Konservasi Peninggalan Borobudur, Marsis Sutopo di Magelang.
Beberapa pekerja terlihat melepas tali pengikat plastik yang menutup stupa, kemudian plastik diturunkan dan dilipat. Sebanyak 16 stupa di lantai 10 Candi Borobudur mulai ditutup plastik pada 15 November 2010.
Marsis mengatakan, waktu itu setiap terjadi luncuran awan panas di puncak Merapi, di wilayah Borobudur dan sekitarnya selalu hujan abu, padahal untuk melindungi batu-batu candi abu vulkanik itu harus segera dibersihkan.
"Agar proses pembersihan abu vulkanik yang menempel di batu candi bisa dilakukan di tengah kondisi sering terjadi hujan abu, maka stupa yang telah dibersihkan segera ditutup dengan plastik," katanya.
Ia menegaskan, karena sekarang kondisinya relatif aman maka penutup stupa itu segera dibuka. Jika terlalu lama ditutup juga tidak baik, karena sisa-sisa abu yang mengandung sulfur itu justru tidak bisa menguap keluar.
Hingga Sabtu, para petugas dari Balai Konservasi Peninggalan Borobudur dan para relawan masih melakukan aktivitas membersihkan abu dan pasir vulkanik di candi tersebut.
Para petugas dari Balai Konservasi Peninggalan Borobudur membersihkan stupa dan dinding candi, sedangkan para relawan membersihkan bagian lantai candi dan sebagian mengangkat pasir yang telah dimasukkan karung dibawa turun.
Para relawan yang ikut membersihkan candi antara lain, mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, komunitas seniman Borobudur, dan para santri dari Pondok Pesantren Miftaqurrahmah.
sumber
"Aktivitas Gunung Merapi mulai reda dan tidak ada lagi hujan abu maka plastik penutup stupa kami buka," kata Kepala Balai Konservasi Peninggalan Borobudur, Marsis Sutopo di Magelang.
Beberapa pekerja terlihat melepas tali pengikat plastik yang menutup stupa, kemudian plastik diturunkan dan dilipat. Sebanyak 16 stupa di lantai 10 Candi Borobudur mulai ditutup plastik pada 15 November 2010.
Marsis mengatakan, waktu itu setiap terjadi luncuran awan panas di puncak Merapi, di wilayah Borobudur dan sekitarnya selalu hujan abu, padahal untuk melindungi batu-batu candi abu vulkanik itu harus segera dibersihkan.
"Agar proses pembersihan abu vulkanik yang menempel di batu candi bisa dilakukan di tengah kondisi sering terjadi hujan abu, maka stupa yang telah dibersihkan segera ditutup dengan plastik," katanya.
Ia menegaskan, karena sekarang kondisinya relatif aman maka penutup stupa itu segera dibuka. Jika terlalu lama ditutup juga tidak baik, karena sisa-sisa abu yang mengandung sulfur itu justru tidak bisa menguap keluar.
Hingga Sabtu, para petugas dari Balai Konservasi Peninggalan Borobudur dan para relawan masih melakukan aktivitas membersihkan abu dan pasir vulkanik di candi tersebut.
Para petugas dari Balai Konservasi Peninggalan Borobudur membersihkan stupa dan dinding candi, sedangkan para relawan membersihkan bagian lantai candi dan sebagian mengangkat pasir yang telah dimasukkan karung dibawa turun.
Para relawan yang ikut membersihkan candi antara lain, mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, komunitas seniman Borobudur, dan para santri dari Pondok Pesantren Miftaqurrahmah.
sumber
Pengungsi Merapi Bertahan di Bantul
Sabtu, 27 November 2010 15:57 WIB
Bantul: Sebanyak 21 kepala keluarga pengungsi korban erupsi Gunung Merapi masih bertahan di pendopo Rumah Dinas Bupati Bantul, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. "Mereka sebagian besar berasal dari warga Dusun Glagahrejo, Cangkringan," kata koordinator posko pengungsian Bayu, di Bantul, Sabtu (27/11).
Menurut Bayu, pengungsi tersebut masih bertahan karena masih khawatir jika pindah atau kembali ke tempat tinggal karena masih dalam zona bahaya. Jarak rumah mereka sekitar 12 kilometer hingga 13 kilometer dari Merapi. "Rata-rata tiap dua hingga tiga keluarga merupakan dalam satu keluarga besar, baik itu yang berada dekat sungai aliran lahar dingin maupun tidak, sehingga mereka lebih memilih mengungsi bersama keluarga lainnya," kata Bayu.
Bayu mengatakan, mereka sebagian besar lanjut usia dewasa dan anak sekolah. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka masak sendiri dari hasil bantuan logistik seperti beras dan mi instan. "Untuk anak sekolah terdapat sebanyak 13 anak meliputi 10 siswa SD dan tiga anak siswa SMP, mereka mendapat pelayanan pendidikan dari mahasiswa yang tengah melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di daerah ini," katanya.
Selain itu, kata Bayu, ada beberapa dari mahasiswa yang mengajarkan keterampilan dari mahasiswa seni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dan memperoleh pendidikan agama dan belajar mengaji dari warga sekitar.
Salah satu pengungsi, Ngatiran, mengatakan bersama keluarga mengaku masih bertahan di Bantul dan belum berani pulang karena khawatir sewaktu-waktu bencana terjadi lagi. "Kami belum berencana dan memastikan kapan untuk pulang karena masih kuatir dengan kondisi Gunung Merapi, kami hanya sesekali menengok ke rumah untuk mencari dan memberi pakan hewan ternak kami," katanya.
Menurut dia, para pengungsi mengaku rumah tinggal mereka sebagian ada yang hancur akibat terjangan material vulkanik. Namun, sebagian rumah tinggal masih utuh tetapi tidak jauh dari sungai yang teraliri lahar dingin.
Menurut dia, pengungsi mengaku sejak zona bahaya dipersempit beberapa waktu lalu mendapat imbauan dari Pemerintah Kabupaten Sleman untuk pindah ke posko pengungsian di Maguwaharjo supaya mudah pendataan. "Kami melihat posko pengungsian di Maguwoharjo saat ini sudah penuh, sehingga kami sementara waktu bertahan," kata Ngatiran.
sumber
Eksotisnya Gunung Bromo Ketika Tidak 'Batuk'
Sabtu, 27/11/2010 03:14 WIB
Beberapa hari ini Gunung Bromo di Probolinggo menjadi pusat perhatian publik. Suasana di gunung yang menyimpan sejuta pesona itu kini sunyi senyap. Tak ada aktivitas para
wisatawan. Denyut ekonomi di sekitar Bromo pun seolah terhenti tatkala status gunung yang menjadi primadona turis itu dinyatakan awas.
Pantas saja pelaku dunia kepariwisataan maupun wisatawan merasakah 'kehilangan' setelah pemerintah menyatakan penutupan sementara Gunung Bromo demi menghindari jatuh korban jiwa seperti pada letusan yang terjadi tahun 2004. Saat itu dua wisatawan tewas dan lima orang luka-luka.
Pesona yang terdapat di komplek Taman Nasional Bromo Tengger Semeru tersebut cukup banyak yang bisa dinikmati. Semenjak statusnya ditetapkan Awas pada Selasa (23/11/2010) lalu, apa yang dikhawatirkan pun terbukti. Letusan awal yang sifatnya kecil pun terjadi pada Jumat sore (26/11/2010). Material vulkanik ikut menyembur hingga ketinggian 1000 meter.
Taman Nasional Bromo Tengger Semeru memang cukup memikat hati siapa saja yang pernah pelesir ke tempat tersebut. Menurut data dari penyempurnaan potensi sesuai surat Menhut No: 278/Kpts-VI/1997, Gunung Bromo merupakan salah satu gunung dari lima gunung yang dikelilingi lautan pasir atau kaldera. Kaldera sendiri masuk wilayah Kabupaten Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, dan Kabupaten Malang.
Diantara gunung yang 'menemani' Bromo diantaranya Gunung Batok. Karena lokasinya berdampingan, kedua gunung seolah menjadi pemandangan yang menyatu. Daya tarik utama adalah Gunung Batok ini merupakan habitat edelwis atau dikenal bunga abadi. Kemudian Gunung Pananjakan yang merupakan tempat yang tertinggi bila dibandingkan dengan tempat-tempat lainnya di Komplek Pegunungan Tengger.
Oleh karenanya di kawasan ini kita dapat menyaksikan keindahan alam di bagian bawah seperti panorama laut pasir dengan komplek Gunung Bromo yang dilatarbelakangi Gunung Semeru dengan kepulan asapnya yang tebal. Dari puncak Pananjakan ini dapat dinikmati pula indahnya matahari terbit. Gunung Pananjakan secara administrasi pemerintahan termasuk dalam wilayah Kab Pasuruan.
Yang tak kalah menariknya adalah Gunung Widodaren. Lokasinya sebelah Gunung Batok dan merupakan potensi obyek wisata yang mempunyai daya tarik tersendiri. Salah satu daya tarik obyek ini adalah bahwa lokasi ini merupakan tempat keramat berupa gua dan sumber air suci.
Pada bagian dalam gua terdapat tempat yang agak luas dan di dalamnya terdapat batubesar (sebagai altar) untuk menempatkan sesajian yang sekaligus sebagai tempat bersemedi khususnya masyarakat Tengger untuk memohon kepada Sang Hyang Widi. Masih di sekitar gua, tepatnya di bagian samping gua tedapat sumber air yang tak pernah kering.
Menurut kepercayaan masyarakat Tengger air dari sumber tersebut merupakan air suci yang mutlak diperlukan bagi peribadatan mereka, misalnya sebagai contoh dalam Upacara Kasada pasti didahului dengan Upacara pengambilan air suci dari Gua Widodaren (Medhak Tirta). Disamping itu pada masyarakat setempat mempercayai bahwa khasiat air dari gua ini dapat membuat awet muda seseorang mempermudah jodoh.
Kembali ke Gunung Bromo. Daya tarik gunung ini kekhasan gejala alam yang tidak ditemukan di tempat lain, yaitu adanya kawah di tengah kawah (creater in the creater). Selain itu di lautan pasir atau kaldera seperti dijelaskan dalam situs departemen kehutanan, ditemukan tujuh buah pusat letusan dalam dua jalur yang silang-menyilang yaitu dari timur-barat dan timur laut-barat daya. Dari timur laut-barat daya inilah muncul Gunung Bromo yang termasuk gunung api aktif yang sewaktu-waktu dapat mengeluarkan asap letusan.
Bromo memiliki sebuah kawah dengan garis tengah kuranglebih 800 meter (utara-selatan) dan 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo.
Kaldera yang mengeliling Bromo pun kini sunyi senyap. Tak lagi bisa disaksikan hilir mudik deru suara mesin Jip Hardtop maupun ringikan suara kuda sewaan yang ditumpangi wisatawan menuju kawah maupun Pegunungan Penanjakan untuk menyaksikan matahari terbit di pagi hari.
"Kaldera kami nyatakan sudah ditutup untuk umum sejak Status Awas ditetapkan. Siapapun tidak boleh beraktivitas di sana," kata Kapolres Probolinggo AKBP Zulfikar yang sekaligus menjadi Wakil Ketua II Tim Tanggap Darurat Bencana Bromo, Jumat malam (26/11/2010).
Penutupan kaldera ini hingga ada rekomendasi yang menyatakan aktivitas vulkano Gunung Bromo telah mereda. "Selama masih bahaya, jarak aman wisatawan menyaksikan Bromo radius 3 Km," tandas Zulfikar.
Perlu diketahui gunung api aktif yang berada pada ketinggian 2.100 meter dari permukaan laut itu memiliki tipe ekosistem sub montana, montana dan sub alphin dengan pohon-pohon yang besar dan berusia ratusan tahun. Beberapa jenis tumbuhan yang terdapat di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru seperti diterangkan dalam situs departemen kehutanan antara lain jamuju (Dacrycarpus imbricatus), cemara gunung (Casuarina sp.), eidelweis (Anaphalis javanica), berbagai jenis anggrek dan jenis rumput langka (Styphelia pungieus).
Selain keanekaragaman flora, fauna di Bromo juga tak kalah menariknya. Di taman nasional itu terdapat sekitar 137 jenis burung, 22 jenis mamalia dan 4 jenis reptilia. Satwa langka dan dilindungi antara lain luwak (Pardofelis marmorata), rusa (Cervus timorensis ), kera ekor panjang (Macaca fascicularis), kijang (Muntiacus muntjak ),ayam hutan merah (Gallus gallus), macan tutul (Panthera pardus ), ajag (Cuon alpinus ).
Dan berbagai jenis burung seperti alap-alap burung (Accipiter virgatus ), rangkong (Buceros rhinoceros silvestris), elang ular bido (Spilornis cheela bido), srigunting hitam
(Dicrurus macrocercus), elang bondol (Haliastur indus).
sumber
Beberapa hari ini Gunung Bromo di Probolinggo menjadi pusat perhatian publik. Suasana di gunung yang menyimpan sejuta pesona itu kini sunyi senyap. Tak ada aktivitas para
wisatawan. Denyut ekonomi di sekitar Bromo pun seolah terhenti tatkala status gunung yang menjadi primadona turis itu dinyatakan awas.
Pantas saja pelaku dunia kepariwisataan maupun wisatawan merasakah 'kehilangan' setelah pemerintah menyatakan penutupan sementara Gunung Bromo demi menghindari jatuh korban jiwa seperti pada letusan yang terjadi tahun 2004. Saat itu dua wisatawan tewas dan lima orang luka-luka.
Pesona yang terdapat di komplek Taman Nasional Bromo Tengger Semeru tersebut cukup banyak yang bisa dinikmati. Semenjak statusnya ditetapkan Awas pada Selasa (23/11/2010) lalu, apa yang dikhawatirkan pun terbukti. Letusan awal yang sifatnya kecil pun terjadi pada Jumat sore (26/11/2010). Material vulkanik ikut menyembur hingga ketinggian 1000 meter.
Taman Nasional Bromo Tengger Semeru memang cukup memikat hati siapa saja yang pernah pelesir ke tempat tersebut. Menurut data dari penyempurnaan potensi sesuai surat Menhut No: 278/Kpts-VI/1997, Gunung Bromo merupakan salah satu gunung dari lima gunung yang dikelilingi lautan pasir atau kaldera. Kaldera sendiri masuk wilayah Kabupaten Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, dan Kabupaten Malang.
Diantara gunung yang 'menemani' Bromo diantaranya Gunung Batok. Karena lokasinya berdampingan, kedua gunung seolah menjadi pemandangan yang menyatu. Daya tarik utama adalah Gunung Batok ini merupakan habitat edelwis atau dikenal bunga abadi. Kemudian Gunung Pananjakan yang merupakan tempat yang tertinggi bila dibandingkan dengan tempat-tempat lainnya di Komplek Pegunungan Tengger.
Oleh karenanya di kawasan ini kita dapat menyaksikan keindahan alam di bagian bawah seperti panorama laut pasir dengan komplek Gunung Bromo yang dilatarbelakangi Gunung Semeru dengan kepulan asapnya yang tebal. Dari puncak Pananjakan ini dapat dinikmati pula indahnya matahari terbit. Gunung Pananjakan secara administrasi pemerintahan termasuk dalam wilayah Kab Pasuruan.
Yang tak kalah menariknya adalah Gunung Widodaren. Lokasinya sebelah Gunung Batok dan merupakan potensi obyek wisata yang mempunyai daya tarik tersendiri. Salah satu daya tarik obyek ini adalah bahwa lokasi ini merupakan tempat keramat berupa gua dan sumber air suci.
Pada bagian dalam gua terdapat tempat yang agak luas dan di dalamnya terdapat batubesar (sebagai altar) untuk menempatkan sesajian yang sekaligus sebagai tempat bersemedi khususnya masyarakat Tengger untuk memohon kepada Sang Hyang Widi. Masih di sekitar gua, tepatnya di bagian samping gua tedapat sumber air yang tak pernah kering.
Menurut kepercayaan masyarakat Tengger air dari sumber tersebut merupakan air suci yang mutlak diperlukan bagi peribadatan mereka, misalnya sebagai contoh dalam Upacara Kasada pasti didahului dengan Upacara pengambilan air suci dari Gua Widodaren (Medhak Tirta). Disamping itu pada masyarakat setempat mempercayai bahwa khasiat air dari gua ini dapat membuat awet muda seseorang mempermudah jodoh.
Kembali ke Gunung Bromo. Daya tarik gunung ini kekhasan gejala alam yang tidak ditemukan di tempat lain, yaitu adanya kawah di tengah kawah (creater in the creater). Selain itu di lautan pasir atau kaldera seperti dijelaskan dalam situs departemen kehutanan, ditemukan tujuh buah pusat letusan dalam dua jalur yang silang-menyilang yaitu dari timur-barat dan timur laut-barat daya. Dari timur laut-barat daya inilah muncul Gunung Bromo yang termasuk gunung api aktif yang sewaktu-waktu dapat mengeluarkan asap letusan.
Bromo memiliki sebuah kawah dengan garis tengah kuranglebih 800 meter (utara-selatan) dan 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo.
Kaldera yang mengeliling Bromo pun kini sunyi senyap. Tak lagi bisa disaksikan hilir mudik deru suara mesin Jip Hardtop maupun ringikan suara kuda sewaan yang ditumpangi wisatawan menuju kawah maupun Pegunungan Penanjakan untuk menyaksikan matahari terbit di pagi hari.
"Kaldera kami nyatakan sudah ditutup untuk umum sejak Status Awas ditetapkan. Siapapun tidak boleh beraktivitas di sana," kata Kapolres Probolinggo AKBP Zulfikar yang sekaligus menjadi Wakil Ketua II Tim Tanggap Darurat Bencana Bromo, Jumat malam (26/11/2010).
Penutupan kaldera ini hingga ada rekomendasi yang menyatakan aktivitas vulkano Gunung Bromo telah mereda. "Selama masih bahaya, jarak aman wisatawan menyaksikan Bromo radius 3 Km," tandas Zulfikar.
Perlu diketahui gunung api aktif yang berada pada ketinggian 2.100 meter dari permukaan laut itu memiliki tipe ekosistem sub montana, montana dan sub alphin dengan pohon-pohon yang besar dan berusia ratusan tahun. Beberapa jenis tumbuhan yang terdapat di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru seperti diterangkan dalam situs departemen kehutanan antara lain jamuju (Dacrycarpus imbricatus), cemara gunung (Casuarina sp.), eidelweis (Anaphalis javanica), berbagai jenis anggrek dan jenis rumput langka (Styphelia pungieus).
Selain keanekaragaman flora, fauna di Bromo juga tak kalah menariknya. Di taman nasional itu terdapat sekitar 137 jenis burung, 22 jenis mamalia dan 4 jenis reptilia. Satwa langka dan dilindungi antara lain luwak (Pardofelis marmorata), rusa (Cervus timorensis ), kera ekor panjang (Macaca fascicularis), kijang (Muntiacus muntjak ),ayam hutan merah (Gallus gallus), macan tutul (Panthera pardus ), ajag (Cuon alpinus ).
Dan berbagai jenis burung seperti alap-alap burung (Accipiter virgatus ), rangkong (Buceros rhinoceros silvestris), elang ular bido (Spilornis cheela bido), srigunting hitam
(Dicrurus macrocercus), elang bondol (Haliastur indus).
sumber
Kemendiknas Siapkan Rp 500 M untuk Bangun Sekolah di Lereng Merapi
Sabtu, 27/11/2010 00:43 WIB
Erupsi Merapi telah menimbulkan banyak dampak bagi berbagai sektor kehidupan masyarakat, tak terkecuali pendidikan. Untuk itu, Kementerian Pendidikan Nasional telah mempersiapkan dana setengah triliun rupiah untuk membangun kembali sarana dan prasarana sekolah, terutama di sekitar lereng Merapi.
“Sampai saat ini, Kemendiknas sudah merencanakan anggaran sekitar lima ratus miliar demi mengembalikan kegiatan belajar mengajar di wilayah Merapi,” ujar Harmanto selaku perwakilan dari Kemendiknas saat jumpa pers dengan wartawan di Media Center, Jl Kenari, Yogyakarta, Jumat (26/11/2010).
Hingga saat ini, kata Harmanto, Kemendiknas masih melakukan pendataan terkait sekolah-sekolah mana yang akan menjadi alokasi dana tersebut, baik di wilayah Yogyakarta maupun Jawa Tengah.
“Dana ini rencananya akan mulai dialokasikan setelah pemetaan sekolah-sekolah selesai. Pemetaan ini masih kami lakukan di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah,” katanya.
Selama ini, kata Harmanto, dalam perencanaan dana yang dimiliki Kemendiknas, tidak ada catatan rencana untuk alokasi ke korban bencana alam. Jadi perencanaan dana itu bersifat spontanitas.
“Sebelumnya di bidang pendidikan, tidak ada rengrengan dana untuk alokasi bencana, tapi demi mengatasi masalah tersebut, sudah menjadi kewajiban kami untuk memulihkan pendidikan,” kata Harmanto yang juga menjabat sebagai Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Kota Yogyakarta.
Harmanto juga menambahkan, dana ini bisa dicairkan dan dialokasikan ke masyarakat apabila ada aturan hukum yang melindunginya.
“Catatan, dana ini akan cair bila sudah ada aturan hukum yang meng-covernya. Dengan kata lain ada payung hukum dari menkokesra, jadi tidak asal cair saja,” imbuhnya.
Dari hasil pendataan sementara oleh Kemendiknas, tercatat ada 73 sekolah di wilayah Sleman yang perlu direlokasi. Sekolah tersebut yaitu TK sebanyak 30 sekolah, SD 32 sekolah, SMP 7 sekolah, SMA 1 sekolah, SMK 2 sekolah, dan SLB 1 sekolah.
“Sementara ini kita baru mendapatkan data dari wilayah Sleman saja, dan 73 sekolah tersebut mayoritas berada di wilayah KRB III yang jaraknya 0-10 km dari puncak Merapi,” kata Harmanto.
Total sekolahan yang perlu direlokasi tersebut di antaranya sekolah yang sudah tidak layak untuk digunakan, mulai dari yang tertimbun pasir, rusak parah, bahkan leyap tersapu awan panas Merapi seperti SMK Cangkringan.
Terkait tentang pengadaan rumah hunian sementara yang hingga sekarang masih dalam tahap pembangunan, pihak Kemendiknas juga akan membangun beberapa sekolah di wilayah tersebut.
“Kami akan lebih mengutamakan pembangunan TK dan SD di wilayah hunian sementara yang sekarang masih dibangun, masalah SMP dan SMA akan ditempatkan di sekolah yang akan ditunjuk dari pemerintah setempat,” katanya.
Selain itu, walaupun jarak aman Merapi sudah dipersempit dan kebanyakan pengungsi sudah kembali ke rumah masing-masing, Kemendiknas juga mencatat ada 2989 guru yang mengungsi dan ada 24.854 siswa yang mengungsi dari total siswa 46.113 jiwa di Sleman.
sumber
Erupsi Merapi telah menimbulkan banyak dampak bagi berbagai sektor kehidupan masyarakat, tak terkecuali pendidikan. Untuk itu, Kementerian Pendidikan Nasional telah mempersiapkan dana setengah triliun rupiah untuk membangun kembali sarana dan prasarana sekolah, terutama di sekitar lereng Merapi.
“Sampai saat ini, Kemendiknas sudah merencanakan anggaran sekitar lima ratus miliar demi mengembalikan kegiatan belajar mengajar di wilayah Merapi,” ujar Harmanto selaku perwakilan dari Kemendiknas saat jumpa pers dengan wartawan di Media Center, Jl Kenari, Yogyakarta, Jumat (26/11/2010).
Hingga saat ini, kata Harmanto, Kemendiknas masih melakukan pendataan terkait sekolah-sekolah mana yang akan menjadi alokasi dana tersebut, baik di wilayah Yogyakarta maupun Jawa Tengah.
“Dana ini rencananya akan mulai dialokasikan setelah pemetaan sekolah-sekolah selesai. Pemetaan ini masih kami lakukan di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah,” katanya.
Selama ini, kata Harmanto, dalam perencanaan dana yang dimiliki Kemendiknas, tidak ada catatan rencana untuk alokasi ke korban bencana alam. Jadi perencanaan dana itu bersifat spontanitas.
“Sebelumnya di bidang pendidikan, tidak ada rengrengan dana untuk alokasi bencana, tapi demi mengatasi masalah tersebut, sudah menjadi kewajiban kami untuk memulihkan pendidikan,” kata Harmanto yang juga menjabat sebagai Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Kota Yogyakarta.
Harmanto juga menambahkan, dana ini bisa dicairkan dan dialokasikan ke masyarakat apabila ada aturan hukum yang melindunginya.
“Catatan, dana ini akan cair bila sudah ada aturan hukum yang meng-covernya. Dengan kata lain ada payung hukum dari menkokesra, jadi tidak asal cair saja,” imbuhnya.
Dari hasil pendataan sementara oleh Kemendiknas, tercatat ada 73 sekolah di wilayah Sleman yang perlu direlokasi. Sekolah tersebut yaitu TK sebanyak 30 sekolah, SD 32 sekolah, SMP 7 sekolah, SMA 1 sekolah, SMK 2 sekolah, dan SLB 1 sekolah.
“Sementara ini kita baru mendapatkan data dari wilayah Sleman saja, dan 73 sekolah tersebut mayoritas berada di wilayah KRB III yang jaraknya 0-10 km dari puncak Merapi,” kata Harmanto.
Total sekolahan yang perlu direlokasi tersebut di antaranya sekolah yang sudah tidak layak untuk digunakan, mulai dari yang tertimbun pasir, rusak parah, bahkan leyap tersapu awan panas Merapi seperti SMK Cangkringan.
Terkait tentang pengadaan rumah hunian sementara yang hingga sekarang masih dalam tahap pembangunan, pihak Kemendiknas juga akan membangun beberapa sekolah di wilayah tersebut.
“Kami akan lebih mengutamakan pembangunan TK dan SD di wilayah hunian sementara yang sekarang masih dibangun, masalah SMP dan SMA akan ditempatkan di sekolah yang akan ditunjuk dari pemerintah setempat,” katanya.
Selain itu, walaupun jarak aman Merapi sudah dipersempit dan kebanyakan pengungsi sudah kembali ke rumah masing-masing, Kemendiknas juga mencatat ada 2989 guru yang mengungsi dan ada 24.854 siswa yang mengungsi dari total siswa 46.113 jiwa di Sleman.
sumber
Warga Sekitar Bromo Diimbau Tidak Panik
Jumat, 26 November 2010 | 21:47 WIB
Setelah letusan kecil dari kawah Gunung Bromo, Jumat (26/11/2010), polisi menyebarkan lembaran imbauan supaya warga tidak panik. Diharapkan warga juga waspada dan siap bila diinstruksikan mengungsi.
Lembaran imbauan ini ditandatangani Wakil Ketua Tim Penanggulangan Bencana Probolinggo - Kepala Kepolisian Resor Probolinggo Ajun Komisaris Besar Zulfikar dan Komandan Komando Distrik Militer 0802 Probolinggo Letnan Kolonel Inf Herry Setiono.
Lembaran imbauan ini dilekatkan di permukiman-permukiman warga. "Tapi, warga belum diminta mengungsi saat ini. Letusan Bromo kecil dan tidak menimbulkan ancaman apa pun," kata Zulfikar.
Kendati demikian, tambah Herry, prosedur tetap harus dilakukan. "Kesiapan untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk sudah ada. Segera setelah ditentukan berbahaya, personel TNI dan Polri siap mengevakuasi warga," katanya.
Kumpulblogger.com
sumber
Gunung Bromo Meletus
Jumat, 26 November 2010 18:28 WIB
Probolinggo: Aktivitas Gunung Bromo di Probolinggo, Jawa Timur, Jumat (26/11) sekitar pukul 17.40 Waktu Indonesia Barat, meletus. Menurut Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVBMG) Surono, letusan Gunung Bromo mencapai ketinggian 500 meter dari bibir kawah. "Sejak 3 hingga 26 November 2010 aktivitas Bromo memang terus meningkat. Terjadi pembesaran di tubuh Gunung Bromo, hingga terjadi letusan. Meski letusan Bromo tidak mengganggu masyrakat sekitar, sekiranya masyarakat tetap harus memperhatikan," tegas Surono.
Karena sifat Gunung Bromo berbeda dengan Gunung Merapi di Jawa Tengah, maka PVBMG tidak akan akan memperluas zona bahaya sejauh 4 kilometer. "Zona bahaya mencakupi lautan pasir. Hingga saat ini belum ada decision dari PVBMG untuk untuk memperluas atau mengecilkan zona berbahaya," papar Surono.
Pihak PVBMG juga tidak mengetahui energi yang masih tersimpan di tubuh Gunung Bromo. "Dilihat akitivitas kegempaan dan gunung terus melengkung, status awas belum bisa diturunkan, karena masih berpotensi meletus. Bagian puncak hingga tubuh Gunung Bromo terus mengembang," kata Surono kepada Zelda Savitri.
Dibandingkan dengan Gunung Merapi, kalau diibaratkan Gunung Bromo ini adalah hotel bintang satu, sedangkan Gunung Merapi layaknya hotel bintang lima. Letusan Gunung Bromo juga hanya mengeluarkan abu atau pasir, tidak mengeluarkan awan panas seperti Gunung Merapi.
sumber
Bromo Meletus, Kendaraan Evakuasi Disiapkan di Cemorolawang
Jumat, 26/11/2010 21:20 WIB
Probolinggo - Tim Tanggap Darurat Bencana menyiapkan truk untuk mengevakuasi warga jika kondisi Gunung Bromo makin memburuk setelah meletus pada Pukul 17.22 Wib.
Tiga truk maupun jip Hardtop disiapkan di Dusun Cemorolawang Desa Ngadisari Kecamatan Sukapura, Probolinggo, Jumat malam (26/11/2010).
"Kita sudah siap jika sewaktu-waktu ada perintah, ini untuk mengantisipasi jatuhnya korban," kata Kapolres Probolinggo AKBP Zulfikar yang sekaligus menjadi Wakil Ketua II Tim Tanggap Darurat Bencana Bromo.
Untuk sementara kata dia, yang menjadi prioritas adalah penduduk yang tinggal di radius 3 Km dari kawah Bromo. Di Dusun Cemorolawang terdapat 699 jiwa.
"Hardtop milik warga akan membantu mengevakuasi ke lokasi-lokasi yang tak mampu dijangkau truk," kata Zulfikar. Dia memastikan armada yang disiapkan akan mampu melakukan evakuasi.
"Data penduduk sudah kita kantongi. Sosialisasi sejak awal juga sudah termasuk dengan para tokoh warganya," imbuhnya. Evakuasi akan dilakukan jika sudah ada rekomendasi dari yang berwenang.
"Semua sudah ready. Dan jarak aman tetap 3 Km. Lautan pasir harus bersih dari segala kegiatan warga maupun wisatawan," tandas dia.
Kumpulblogger.com
sumber
Secara Visual Bromo Tenang, Tapi Gempa Terus Terjadi
Jumat, 26/11/2010 09:13 WIB
Surabaya - Secara visual, kondisi Gunung Bromo, Jumat (26/11/2010) pagi ini mengalami penurunan dibanding hari-hari kemarin. Asap yang keluar dari kawah Bromo terlihat tipis dengan tekanan lemah. Tinggi asap 50 - 100 meter dari bibir kawah.
"Tetapi secara alat, kondisi Bromo mengalami peningkatan dibanding hari kemarin," kata petugas pos pengamatan Gunung Bromo, Ahmad Subhan, saat dihubungi detiksurabaya.com
Hal itu dibuktikan dengan gempa tremor yang masih terus terjadi dengan amplitudo
maksimal 1,5 - 5 mm. Sedangkan gempa vulkanik, telah terjadi 69 gempa vulkanik tipe B mulai dari kemarin hingga pukul 06.00.
Sementara untuk penghitungan gempa vulkanik mulai pukul 00.00 - 06.00 WIB, telah terjadi gempa vulkanik sebanyak 26 kali.
"Dengan keadaan seperti ini, status awas masih belum dicabut," tandas Ahmad.
sumber
Khawatir Lahar Dingin, Ratusan Warga Pindah
25/11/2010 10:50
Magelang: Ratusan warga di Desa Duwet, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah mendadak mengungsi, Kamis (25/11). Mereka ketakutan terhadap banjir lahar dingin dari Gunung Merapi. Warga menempati Gedung Balai Desa Tirto, Kecamatan Salaman berjarak sekitar 10 kilometer dari Desa Duwet yang berpenduduk 650 jiwa.Para pengungsi dadakan ini berharap, pemerintah segera memberi bantuan logistik. Sebab umumnya mereka tak memiliki uang untuk biaya hidup sebagai dampak Merapi.
Saat ini radius aman kawasan Magelang turun dari 15 kilometer menjadi 10 kilometer. Meski Gunung Merapi sudah mengalami penurunan intensitas, namun status awas masih berlaku.
sumber
Mapalas Unitomo Gelar Konser Amal Korban Bencana
Kamis, 25/11/2010 12:41 WIB
Surabaya - Tergerak memberi bantuan korban letusan Gunung Merapi Yogyakarta, Mahasiswa Pecinta Alam dan Seni (Mapalas) Uniersitas Dr Soetomo (Unitomo) menggandeng musisi rock Surabaya menggelar konser musik amal, Kamis (25/11/2010).
Belasan grup band dipastikan ambil bagian dalam ajang bertitel Mapalas Ben-Benan Spesial Merapi itu. Acara konser musik amal itu akan digelar nonstop mulai pukul 15.00 WIB hingga 23.00 WIB di halaman kampus Unitomo Jalan Semolowaru.
Kelompok musik yang ambil bagian dalam konser musik amal antara lain Creme Caramel, Plester-X, Macan dan Devadata. Gitaris senior dari grup band Power Metal, Ipunk juga akan tampil berkolaborasi dengan band-band yang hadir.
Ketua panitia Maplas Ben-Benan Spesial Merapi, Supardi Tamia (20), menyatakan
pagelaran musik amal itu diselenggarakan untuk mengetuk rasa kepedulian dan kebersamaan musisi, pecinta musik dan masyarakat Surabaya pada umumnya membantu korban bencana Merapi. Event itu juga merupakan bentuk upaya mahasiswa membantu sesama.
"Kami mengupayakan bentuk dukungan pada saudara kita di Jogjakarta melalui cara kami bisa lakukan, selain memberi bantuan secara langsung kami juga mewadahi para musisi dan pecinta musik Surabaya," kata Supardi yang tercatat sebagai pengurus Mapalas Unitomo.
Mahasiswa dan FIA semester lima ini menambahkan para musisi dan grup band yang berpartisipasi beriniatif tampil meskipun mereka tidak dibayar. "Padahal mereka band ternama, bukannya dibayar mereka juga ada yang menyumbang selain ikut tampil," tambah mahasiswa yang biasa dipanggil Adi itu.
Acara konser musik dibuka untuk umum. "Gratis, tidak ada tiket masuk, tapi kami mengimbau masyarakat yang menonton memberi sumbangan bantuan sukarela," tegas Adi.
Bantuan dari penonton nantinya akan langsung disalurkan ke posko penannan
Pengungsi Merapi di Jogjakarta. Sementara itu para musisi Surabaya yang ikut tampil dalam Mapalas Ben-Benan Spesial Merapi menyatakan senang bisa tampil sekaligus membantu korban Merapi.
"Kami dan teman-teman dengan senang hati ikut berpartisipasi," ujar Gatuk, musisi senior Surabaya yang juga gitaris kelompok musik Macan.
Hal senada juga disampaikan Bodhas, vokalis dan gitaris Devadata yang dengan
senang hati mendukung kegiatan koner amal itu. "Kami tetap akan tampil maksimal meski ini konser amal," tegas Bodhas.
sumber
Pasar Tradisional di Lereng Merapi Mulai Menggeliat
Kamis, 25/11/2010 12:10 WIB
Yogyakarta - Sejumlah pasar tradisional di kawasan lereng selatan Merapi di Sleman mulai beraktivitas kembali. Namun aktivitas perdagangan di pasar-pasar tradisional belum sepenuhnya pulih.
Meski sudah ada aktivitas ekonomi, para pedagang belum banyak yang membuka kios dagangannya. Para pembeli yang sebagian besar warga sekitar juga belum banyak. Sebab, pedagang maupun pembeli masih banyak yang tinggal di pengungsian.
Berdasarkan pantauan detikcom, Kamis (25/11/2010), pasar tradisional yang telah buka di antaranya pasar Desa Bimomartani Ngemplak, Pasar Pakem, Pasar Kejambon Sindumartani dan Pasar Butuh Glagaharjo Cangkringan.
Sebagian besar para pedagang mulai membuka kembali usahanya sejak dipersempit zona aman Merapi 15 km.
Di pasar Kejambon misalnya, para pedagang terutama sayuran dan sembako lebih banyak menggelar dagangannya di halaman depan pasar. Sedang kios-kios di dalam pasar belum banyak yang buka. Meski pasar itu selalu ramai tiap hari, namun aktivitas hanya berlangsung mulai pukul 06.00 - 11.00 WIB.
Hal serupa juga terjadi di pasar Butuh Glagaharjo yang terletak berbatasan antara Cangkringan Sleman dengan Kepurun Manisrenggo Klaten. Letak pasar ini sekitar 11 km dari puncak dan berada di jalan batas provinsi menuju arah Dusun Srunen dan Balarente. Di antaranya kios pasar yang ada di sisi barat dan timur terbelah jalan sebagai batas Provinsi DI Yogyakarta dengan Jawa Tengah.
Pasar ini dulu selalu ramai dikunjungi warga Desa Glagaharjo, Balerante maupun Manisrenggo Klaten. Namun setelah erupsi besar 5 November lalu aktivitas pasar sempat mati. Kembalinya para pengungsi memicu pulihnya aktivitas di pasar tradisional.
"Seminggu terakhir ini sudah banyak pedagang yang buka dan warga sekitar yang rumahnya aman juga sudah banyak yang pulang," kata Mulyono salah satu pedagang sembako di Pasar Butuh kepada detikcom.
Menurut dia, sejak hari Senin 22 November para pedagang kelontong dan pemilik kios sudah mulai membersihkan barang dagangannya dari debu vulkanik Merapi. Satu demi satu para pedagang mulai membuka kiosnya. Pedagang sembako, sayuran yang berasal dari luar desa juga sudah menggelar dagangan di los-los pinggir pasar. Sedang yang belum nampak adalah petugas retribusi pasar yang setiap hari berkeliling ke kios-kios dan los pasar.
Dia pun kemudian menunjukkan banyaknya warga dari dusun-dusun di bagian atas seperti Balerante, Panggang, Bendosari, Banjarsari, Kepurun, Jetis Sumur, Gading, Ngancar yang berbelanja berbagai kebutuhan di pasar.
Warga yang berbelanja sebagian besar adalah warga yang rumahnya aman tidak terkena awan panas Merapi.
"Hari ini sudah lumayan ramai tapi tidak seramai seperti saat sebelum Merapi meletus. Masih banyak warga Glagaharjo yang tinggal di pengungsian karena rumahnya rusak," kata Mulyono.
sumber
Kali Mancingan Meluap, Warga Merugi
25/11/2010 10:11
Magelang: Kali Mancingan di Magelang meluap setelah dibanjiri lahar dingin. Akibatnya, lahan pertanian warga rusak. Berbagai tanaman seperti padi hancur diterjang banjir lahar dingin. Petani pun merugi hingga puluhan juta rupiah
Menurut warga setempat, Ismail, banjir lahar dingin di Kali Mancingan merupakan yang paling parah dibanding sebelumnya. Bahkan sempat membuat warga panik dan ketakutan. Warga banyak yang mengungsi. Sementara untuk mengantisipasi kerusakan tanaman padi lebih parah, warga juga membuat selokan dengan cara membedah pematang.Dari pantauan SCTV di lapangan, Rabu (25/11), datangnya ahar dingin yang sempat meluber ke lahan pertanian penduduk inim, mengundang perhatian masyarakat yang penasaran. Mereka ingin melihat dari dekat aliran banjir tersebut. Bahkan sebagain warga yang datang itu juga tidak memikirkan ancaman jiwa, beberapa warga menonton disekitar jembatan.
sumber
Korban Merapi Mulai Perbaiki Pipa Air
24/11/2010 23:52
Sleman: Warga Dusun Babadan, Girikerto Turi, Sleman, Yogyakarta, kesulitan memperoleh air bersih pascaerupsi Gunung Merapi. Begitu tiba di rumah dari pengungsian, warga langsung memperbaiki pipa aliran air bersih agar bisa berfungsi kembali, Rabu (24/11).
Perbaikan dan pemasangan pipa baru dipimpin Kolonel Agus Sulistyo. Upaya perbaikan dilakukan agar air bersih dari sumber mata air Kali Sempor bisa segera mengalir kembali. Air bersih digunakan warga tiga dusun atau sekitar seribu orang untuk keperluan mandi, cuci, dan kakus (MCK).
Saat Merapi meletus, warga Dusun Babadan kehilangan pipa air bersih sepanjang 600 meter. Pipa rusak setelah diterjang lahar dingin dan material vulkanik Merapi. Hal itu membuat Dusun Babadan, Imorejo, dan Mangunsari mengalami krisis air bersih. Warga di sana tak melakukan aktivitas MCK secara normal.
Perbaikan dan pemasangan pipa baru dipimpin Kolonel Agus Sulistyo. Upaya perbaikan dilakukan agar air bersih dari sumber mata air Kali Sempor bisa segera mengalir kembali. Air bersih digunakan warga tiga dusun atau sekitar seribu orang untuk keperluan mandi, cuci, dan kakus (MCK).
Saat Merapi meletus, warga Dusun Babadan kehilangan pipa air bersih sepanjang 600 meter. Pipa rusak setelah diterjang lahar dingin dan material vulkanik Merapi. Hal itu membuat Dusun Babadan, Imorejo, dan Mangunsari mengalami krisis air bersih. Warga di sana tak melakukan aktivitas MCK secara normal.
Menko Kesra Pantau Puncak Bromo Pukul 03.00 WIB
Pemerintah telah menaikkan status Gunung Bromo menjadi awas pada Selasa (23/11), kemarin. Menko Kesra Agung Laksono terjun langsung ke lokasi untuk memantau perkembangan gunung yang berada di Probolinggo, Jawa Timur (Jatim), itu.
"Ada 19 gunung yang bergolak statusnya dari siaga ke waspada. Tapi dari gunung-gunung itu Gunung Bromo melesat sendiri ke level tertinggi menjadi status awas. Dan itu yang mendorong sayang ke sini," ujar Agung di sela-sela pertemuannya dengan Bupati Probolinggo, Hasan Aminuddin, di pendopo Kabupaten Probolinggo, Jl Ahmad Yani, Kamis (25/11/2010).
Meskipun bagi warga sekitar aktivitas Bromo masih relatif aman, Agung berpesan kepada pejabat setempat untuk tetap selalu waspada. Jangan sampai karena kelalaian berujung pada jatuhnya korban jiwa.
"Saya berpesan, utamakan keselamatan para warga. Diupayakan agar zero korban semaksimal mungkin. Maka itu salah satu tujuan saya ke sini untuk memastikan langkah-langkah apa yang akan dilakukan, meski belum ada letusan," katanya.
Lebih lanjut Agung menjelaskan, menghadapi bencana yang diakibatkan oleh aktivitas gunung lebih mudah dibanding bencana lain seperti tanah longsor dan tsunami. Sebab, tanggap penanggulangan bencana gunung meletus sudah ada tahapan-tahapannya.
"Kalau menghadapi bencana seperti ini, inikan beda dengan longsor dan tsunami. Ada tahapan-tahapannya sehingga kita bisa melakukan antisipasi," jelas pria mantan Ketua DPR yang mengenakan batik coklat lengan panjang ini.
Agung berjanji meskipun ini bencana daerah, pemerintah pusat tidak akan pernah lepas tangan.
"Walapun bencana tingkat daerah, kami dari pusat akan tetap memberi dukungan 100 persen. Tentu kita harapkan tidak terjadi bencana. Kalau sampai terjadi jangan sampai ada korban jiwa," tegas politisi Partai Golkar ini.
Belum jelas apa saja agenda Agung selama di Probolinggo. Informasi yang diterima detikcom, Agung akan memantau langsung aktivitas Bromo sekitar pukul 03.00 WIB dini hari dan dari radius 3 Km dari puncak gunung. Sejumlah pejabat pemerintah setempat akan mendampinginya termasuk Wakil Gubernur Jawa Timur Syaifullah Yusuf.
sumber
Merapi Masih Erupsi, Masa Tanggap Darurat Diperpanjang Dua Minggu
Rabu, 24/11/2010 17:54 WIB
Jakarta - Aktifitas Gunung Merapi cenderung masih tinggi selama dua hari terakhir membuat masa tanggap darurat yang semestinya berakhir hari ini, terpaksa diperpanjang hingga dua minggu ke depan. Badan geologi mencatat masih terjadi gempa vulkanik, gempa multiphase dan luncuran awan panas.
”Adanya ancaman banjir lahar dingin di beberapa desa juga memperpanjang masa tanggap darurat,” Kepala Sub Bidang Penyelamatan dan Penanggulangan Bencana
Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Penanggulangan Bencana Kabupaten Magelang Heri Prawoto kepada detikcom Rabu(24/11/2010) di Posko Penanganan Induk di Pendopo Bupati Magelang, Jl. Letjen Tukiyat, Magelang.
Menurutnya perpanjangan masa tanggap darurat dilakukan hingga 9 Desember mendatang. Hal ini didasarkan pada surat dari BPPTK yang menyatakan status Gunung Merapi masih awas sehingga radius aman minimal 10 km dari puncak Merapi.
"Berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Senin (22/11), pukul 21.00 malam, kembali terjadi luncuran awan panas selama empat menit. Jarak
luncurnya sekitar mencapai dua kilometer ke arah selatan," terangnya.
Zona rawan bencana masih tetap dipertahankan seperti sebelumnya, yaitu untuk wilayah Sleman 15 kilometer dari puncak untuk daerah di sebelah timur kali Boyong, dan 10 kilometer untuk yang di sebelah baratnya. Kabupaten Magelang dan Klaten, zona rawan tetap 10 kilometer dari puncak. Untuk Boyolali, zona rawan sekitar lima kilometer dari puncak.
”Meskipun intensitas erupsi menurun, tetapi masih ada aktivitas dan erupsi yang
sewaktu-waktu ada luncuran awan panas,” kata Kepala PVMBG, Surono melalui surat yang dikirimkan ke Kabupaten Magelang.
Dalam surat itu juga dijelaskan kubah baru erupsi 2010 sudah mulai terbentuk dan terlihat dari pos pemantauan di Deles, Klaten, Jawa Tengah. Meskipun teori erupsi 2006, jika terbentuk kubah baru maka erupsi akan berhenti. Namun kubah lava baru itu belum stabil sehingga masih ada kemungkinan ambrol lagi jika ada tekanan magma dari dalam perut gunung.
”Kubah lava baru itu baru kami temukan pada Senin kemarin, dipastikan masih labil,” tegas Surono.
PVMBG juga belum bisa memastikan apakah saat ini Merapi sudah memasuki fase akhir erupsi. Yang pasti, tren aktivitas dan intensitas erupsi berangsur, menurun meski proses erupsi masih berlangsung. "Masih dalam pengamatan," imbuhnya.
sumber
Banjir Lahar Dingin Meluap, Ratusan Warga Magelang Mengungsi
Rabu, 24/11/2010 17:08 WIB
Magelang - Banjir lahar dingin kembali melanda enam sungai yang berhulu di Gunung Merapi, Rabu (24/11/2010). Akibatnya, sebanyak 300 warga Dusun Garon, Desa Mantingan, Kecamatan Salam, mulai mengungsi.
Mereka mengungsi ke Balai Desa Jamus Kauman, Kecamatan Ngluwar. “Setelah hujan deras dan Kali Batang meluap lagi, warga Garon kemudian mengungsi ke desa kami,” tegas perangkat Desa Jamus Kauman, Ahmad Imron kepada detikcom.
Imron menyatakan, banjirnya lahar dingin terjadi akibat hujan deras yang turun sore ini di kawasan Magelang, sehingga di aliran Kali Batang yang merupakan hulu dari Kali Putih di bagian lereng Merapi semakin membesar jika dibandingkan banjir lahar sebelumnya.
Pernyataan yang sama juga disampaikan oleh Asngari, warga Dusun Duet, Desa Mantingan, Kecamatan Salam.
“Banjir telah merusak lahan pertanian sekitar 12 hektar. Banjir bahkan sudah sampai di jalan penghubung antardusun yang berjarak 200 meter dari bibir sungai,” tegas Asngari.
Asngari menjelaskan, Kali Batang yang awalnya hanya memiliki lebar sekitar tujuh meter kini bertambah lebarnya sampai menjadi 50 meter.
Timbunan material yang dibawa lahar juga sampai menutup jembatan yang menghubungkan Desa Mantingan dan Dusun Kadipolo, Desa Salam, Kecamatan Salam.
Berdasarkan pantauan detikcom di jembatan Desa Mantingan saat ini lantai jembatan Mantingan sudah menjadi dasar sungai sehingga tidak bisa dipergunakan lagi.
Air kemudian meluber ke persawahan di Dusun Keron dan Dusun Duwet. Jika banjir datang lagi diperkirakan akan menerjang 20 hektar sawah sisanya.
Endapan pasir dan batu besar dari atas gunung membuat dasar sungai semakin naik dan bahkan melebihi permukaan sawah.
“Ini sebenarnya bukan jalur lahar namun karena dam Kali Putih jebol aliran lahar membentuk kali baru dan kemudian masuk ke Kali Kemadu dan Kali Batang. Sawah kami sekarang terendam lahar,” tegas Asngari.
Asngari mengatakan, kondisi dasar sungai sudah tertutup material vulkanik sehingga jalur lahar melebar ke persawahan. Warga khawatir lahar akan meluber ke perkampungan penduduk sehingga warga memilih mengungsi.
Kondisi serupa juga terjadi di Sungai Putih. Banjir terjadi dua hari berturut-turut pada Selasa dan Rabu kemarin. Aliran lahar bahkan nyaris meluber ke jalan Gulon-Trayem, tepatnya d Dusun Salakan, Desa Sirahan.
Lahar datang dengan membawa batu-batu dan pohon-pohon besar yang hanyut dari atas gunung. Saat banjir mereda, material vulkanik menumpuk di pinggir sungai sampai ketinggian antara 1-2 meter. Banjir ini juga menimbun jembatan Seloboro dan Jembatan Candi. Kedua jembatan tersebut tertimbun pasir dan pagar jembatan hilang.
“Air lahar bahkan sempat masuk ke rumah penduduk di Dusun Berokan. Ini banjir yang sangat besar,” tegas Sarjiman, warga Dusun Tular, Desa Seloboro.
Uniknya, pada saat banjir terjadi, belasan truk berplat H sudah mengantre di pinggir sungai. Mereka menunggu beberapa penambang yang nekat beraktivitas. Beberapa penduduk sempat memperingatkan penambang namun tidak digubris.
Jalur lahar di Magelang sebenarnya hanya lima sungai yakni Kali Putih, Kali Krasak, Kali Lamat, Kali Pabelan, dan Kali Blongkeng. Adapun Kali Batang baru kali ini dilalui lahar akibat dam Sungai Putih di atas Dusun Jenglik, Desa Ngablak, Kecamatan Srumbung jebol.
sumber
Langganan:
Postingan (Atom)
-
01/11/2010 21:36 Liputan6.com, Sragen: Hujan abu vulkanik pasca letusan Gunung Merapi Ahad malam lalu, dirasakan sampai ke kota Sragen, J...
-
01 November 2010, 05:17:02 Berbedanya karakter letusan pada 3 kali aktivitas sejak Selasa (26/10) membuat masyarakat sekitar kini harus ki...
-
Tim evakuasi ketika memotong pohon-pohon yang tumbang melintang jalan ketika akan mengevakuasi jenazah di Dusun Banjarsari, Glagaharjo, Can...
-
Jakarta - Hingga kini kondisi Gunung Merapi masih belum bisa diprediksi. Bahkan diketahui energi yang berada di dalam Merapi masih luar ...













